







"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."
QS. Ar-Rum: 21
Di tengah riuh rendahnya ‘kota Cinta’, sebuah pertemuan tak terduga mempertemukan kami. Senyum pertama Adam yang menawan, dan tawa renyah Hawa yang memikat, menciptakan melodi yang langsung mengisi ruang hati. Sejak saat itu, kami tahu ada sesuatu yang istimewa di antara kami, benih cinta yang baru saja ditanam, siap untuk tumbuh dan mekar. Setiap percakapan terasa ringan namun mendalam, seolah kami telah saling mengenal sepanjang hidup, mengukir babak pertama kisah kami.
Perjalanan kami memang tidak selalu mulus, namun setiap langkah yang kami lewati bersama justru menguatkan ikatan. Kami belajar tentang arti sabar, saling mendukung di kala suka maupun duka, dan menemukan keindahan dalam kesederhanaan. Ada satu sore di mana kami hanya duduk berdua, berbagi cerita dan tawa, dan di saat itulah kami tahu, hati kami telah berpadu sempurna. Kami bukan lagi dua individu yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang utuh, siap menghadapi masa depan dengan cinta di setiap hembusan napas.
Di ‘kota Cinta’ yang menjadi saksi bisu pertemuan pertama kami, Adam melamar Hawa, dengan segenap ketulusan hatinya. Mata kami saling bertemu, dipenuhi air mata bahagia dan janji yang tak terucap. Sebuah ‘ya’ tulus terucap, mengukuhkan seluruh perjalanan cinta kami. Momen itu bukan hanya tentang sebuah lamaran, melainkan tentang janji suci untuk selamanya, untuk membangun sebuah keluarga, dan untuk terus menulis bab-bab indah dalam kisah cinta kami hingga akhir hayat, di tempat cinta kami bermula.